Teknik Sapu Jagad ITB

Mei 12, 2009 at 4:04 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

“Saya kurang yakin, karena dia tidak mempunyai pengalaman dan latar belakang untuk bisnis sektor hilir, sektor distribusi BBM”, ujar Kurtubi, pengamat perminyakan ketika mengomentari terpilihnya Karen Agustiawan sebagai Direktur Utama Pertamina.Dia juga mengatakan bahwa, latar belakang pendidikan Karen yang tidak berkaitan langsung dengan perminyakan akan menjadi kendala saat memimpin Pertamina.

Suatu hal yang menarik bila mencermati dan menelaah ucapan dari Kurtubi tersebut.Secara sekilas, tendensi orang awam akan menganggap Karen Agustiawan tidak mempunyai kapabilitas yang cukup untuk memimpin Pertamina.Tetapi, apakah memang demikian faktanya? Demi menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya jika kita melihat track record seorang Karen Agustiawan.

Setelah lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1978, Karen memulai perjalanan karirnya di berbagai industri minyak dan gas, diantaranya Mobil Oil Indonesia (1984-1996) dan Halliburton Indonesia (2002-2006). Selama bekerja di Mobil Oil, Karen memegang beberapa posisi termasuk sistem analis dan programmer untuk pengembangan perhitungan cadangan (reserve calculation), processor seismik, dan sistem pengontrol kualitas untuk berbagai projek seismik. Karen juga pada waktu itu adalah pemimpin proyek departemen komputasi eksplorasi (exploration computing department). Pada tahun 2002, ia menjadi wanita pertama Indonesia yang direkrut sebagai commercial manager di Halliburton Indonesia. Kemudian, tahun 2006 lalu barulah Karen bergabung bersama Pertamina sebagai Direktur Pertamina Hulu.Jelas, dengan pengalaman seperti itu, maka Karen memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang Dirut Pertamina, artinya Karen bukanlah sekedar anak bau kencur di dalam industri perminyakan bila ditinjau dari segi pengalaman.Tetapi, yang agak meragukan dari Karen adalah latar pendidikan yang digelutinya.Karen “hanyalah” seorang sarjana Teknik Fisika.Sebuah bidang keilmuan yang orang awam akan sulit menghubungkannya dengan dunia emas hitam tersebut.Lalu, apakah Karen benar-benar tidak mempunyai dasar keilmuan yang berhubungan dengan ranah perminyakan, atau sebuah pertanyaan lugas terucap, “Apa itu Teknik Fisika?”.

Secara umum, Teknik Fisika (TF) dikenal sebagai program studi yang mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan aspek fisika dan teknologi. Dengan begitu, keilmuan yang diberikan di sini akan membuat teman-teman memiliki kemampuan untuk memandang persoalan teknik dengan pandangan yang luas dilihat dari berbagai aspek kefisikaannya. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika dilihat banyak pelajaran di Teknik Fisika yang sebenarnya mirip atau sama dengan program studi lain seperti program studi Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Kimia, dan Teknik Material. Dalam dunia industri seorang lulusan TF mempunyai kemampuan menjadi ”jembatan” bidang-bidang teknik yang lain. Dasar-dasar keilmuan TF yang lebih luas membuat seorang insinyur TF akan bisa menganalisa masalah yang melibatkan beberapa bidang teknik. Hal inilah yang merupakan salah satu keunggulan lulusan TF. Namun, bukan berarti seorang lulusan TF tidak memiliki keahlian spesifik. Bila orang berbicara tentang instrumentasi dan kontrol, maka lulusan TF lah yang pertama kali disebut. Bila orang membahas bidang akustik maka yang akan menjadi sorotan adalah lulusan TF. Tata cahaya atau lighting juga dikuasai oleh lulusan TF. Begitu pula dengan teknologi pendinginan ruangan (air conditioning) lulusan TF adalah ikonnya.

Sekelumit penjelasan tersebut tampaknya secara tersurat tidak mencerminkan adanya semacam simbiosis mutualisme antara TF dengan ranah perminyakan.Tetapi, bila menelaah lebih jauh dan mencoba mencari informasi tambahan, maka secara tersirat akan tampak benang merah antara perminyakan dengan TF. Dalam dunia industri proses, contohnya industri perminyakan, ilmu yang dipelajari di program studi Teknik Fisika memiliki efek yang nyata. dalam pengontrolan sebuah proses terkadang tidak cukup hanya mengetahui seluk beluk tentang alat pengontrol (controller) saja namun juga terkadang kita harus mengetahui proses apa yang ingin kita kontrol dari proses itu apa variabel yang harus di kontrol lalu untuk proses yang demikian sensor apa yang tepat dalam sistem kontrolnya dan mode pengontrol apakah yang efisien di gunakan. Untuk dapat memahami seperti ini terkadang satu bidang Teknik saja tidak cukup, misal prosesnya cenderung termodinamik dan pengontrol yang digunakan menggunakan sinyal elektrik, Teknik Fisika kemudian mempunyai kemampuan untuk mengelaborasikan beberapa ilmu ini untuk bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Simbiosis mutualisme antara TF dengan industri perminyakan tidak hanya terjadi pada pengontrolan, tetapi juga pada “ajian” lain yang dimiliki oleh TF yaitu akustik dan material. Akustik dipergunakan sebagai salahsatu teknik pencarian atau ekplorasi sumber minyak dengan memanfaatkan gelombang, sedangkan ilmu material dipakai untuk menganalisis kandungan minyak dan karakteristik material yang diperlukan sebagai sensor pengukuran. Belum lagi “ajian” lain seperti pemograman, ilmu pengukuran, ilmu sensor, pengkondisian suhu,ilmu robotika dll., semakin mempertegas jatidiri TF sebagai all around engineer atau insinyur yang mampu berada disegala bidang dengan kemampuan dasar Fisikanya yang memang luas, sehingga ia mampu untuk memecahkan permasalahan di masyarakat melalui keluasan pemahamannya.Sehingga tidak aneh bila banyak alumni TF yang bekerja di berbagai bidang bahkan terkadang seperti mengambil jatah orang lain dengan berkecimpung ke bidang lain, seperti jabatan Menristek, insinyur yang menangani proses kimia, psikolog, hingga yang teranyar jabatan Dirut Pertamina. Berdasarkan penjelasan tentang kemampuan seorang lulusan TF, maka suatu hal yang wajar bila Karen Agustiawan menduduki kursi Dirut Pertamina, artinya kompetensi Beliau pantas untuk mengambil amanah tersebut, baik dari segi pengalaman maupun dari sisi keilmuan.

Berpegangan kepada fakta bahwa Teknik Fisika memiliki cakupan keilmuan yang luas dan mempunyai sebaran alumni di berbagai bidang, dengan kompetensi yang telah teruji, maka sebutan TF sebagai teknik sapu jagad pantas untuk disematkan.

Ada pengalaman menarik dari Ir. H. Hermawan KD, Ph. D, dosen program studi Teknik Fisika ITB sewaktu mengikuti acara pertemuan tahunan ABET ( Acreditation Board for Engineering and Technology ) di National University of Singapore bulan Desember 2003. Saat itu beliau bertemu dengan Dr. Gloria Rogers direktur lembaga riset dan perencanaan Rose-Holman Institue of Technology ( R&HIT )sebuah perguruan tinggi teknik terbaik dengan reputasi riset yang cukup bagus bahkan tergolong terbaik di AS. Yang menarik dari perbincangan tersebut adalah di tahuni tu R&HIT baru saja membuka Department of Engineering Physics. Mereka berpendapat untuk menjawab tantangan zaman yang maskin menuntut pengembangan teknologi yang begitu kompleks maka dibutuhkan sebuah bidang teknik yang mempunyai fleksibillitas yang tinggi untuk menangani dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang harus diselesaikan menggunakan teknologi yang mana belum atau tidak tersentuh oleh berbagai bidang teknik “ tradisional “ yang sudah mapan kompetensinya “. Mendesaknya kebutuhan akan hal ini sampai membuat perguruan tinggi sekelas R&HIT membentuk Departemen Teknik Fisika untuk menjawab tantangan tersebut.

Pengalaman dosen TF ITB tersebut seakan semakin mengukuhkan bahwa Teknik Fisika memang teknik sapu jagad yang amat dibutuhkan oleh masyarakat luas.Lalu sekarang, siapa lagi yang masih ragu dengan Teknik Fisika?Anda?

Pustaka:

www.itb.ac.id/news/2326.xhtml

www.itb.ac.id/usm-itb/Prodi/133.htm

www.hukumonline.com/detail.asp?id=21112&cl=Berita

(Maha)Siswa ITB

Mei 12, 2009 at 3:54 pm | In Uncategorized | Leave a Comment


Untuk mewujudkan sosok bernama mahasiswa, diperlukan dua elemen krusial.Elemen pertama merupakan elemen yang lazim ada dari suatu institusi pendidikan yaitu kecerdasan intelektual.Elemen kedua berupa elemen yang menjadi tanggung jawab seorang mahasiswa terhadap sosial kemasyarakatan, lebih sering dikenal sebagai peran mahasiswa.Elemen kedua tersebut adalah faktor penentu seseorang memiliki kromosom yang menjadikannya bernama mahasiswa.Adapun elemen pertama hanya membuat seseorang bergelar siswa minus embel-embel maha, yang notabene umumnya sudah dipunyai oleh seseorang semenjak berguru di bangku sekolah dasar.

Peran mahasiswa secara umum berlandaskan pada tiga hal yang sering didengungkan oleh mahasiswa yang menamakan dirinya aktivis.Ketiga hal tersebut yaitu mahasiswa sebagai iron stock, guardian of value, dan sebagai agent of change.Mengaitkan ketiga hal tersebut dengan kehidupan massa kampus di Ganesha 10, fenomena menarik terjadi pada dua pilar terakhir dari peran mahasiswa, yaitu mahasiswa sebagai guardian of value dan agent of change.Mungkin diakibatkan oleh tingginya IQ dan kreativitas mahasiswa ITB, maka kedua pilar tersebut dapat ditransformasikan menjadi sesuatu yang berbeda.Lazimnya berbagai transformasi yang digunakan dalam ilmu eksakta, yang mana digunakan untuk mewujudkan tujuan dengan mengubah suatu fungsi matematis, maka demikian pula perlakuan terhadap kedua pilat tersebut.Hanya sayang, transformasi yang mereka lakukan telah merusak komposisi unsur-unsur penyusun pilar-pilar tersebut, yang bernama nilai-nila ideal.

Mahasiswa ITB tersebut mencoba mengubah nilai-nilai ideal yang mana nilai-nilai ideal tersebut telah menjadikan mahasiswa menjadi bagian dari rakyat.Dengan perubahan tersebut, terjadilah pengalihan makna dari arti nilai-nilai ideal menjadi nilai-nilai “i deal” alias nilai-nilai yang menjadi persetujuan antara pihak-pihak tertentu.Perubahan tersebut juga menyempitkan hubungan antar mahasiswa dan memutuskan hubungan mahasiswa dengan rakyat.Sehingga wajar jika, beberapa waktu terakhir, budaya egois dan apatis meningkat, skeptis dan studisentris pun mencuat.Konkretnya, budaya “cari selamat sendiri” menjadi nilai baru yang diusung.Budaya yang berkata, “Anda mau selamat?Mari kita buat kesepakatan, dan lupakan yang lain.”.

Lalu, terkait dengan dua pilar peran mahasiswa tersebut, maka “keberhasilan” perubahan nilai-nilai tersebut telah membuat mereka berhasil mewujudkan peran sebagai agent of change dan timbulnya budaya baru bernama “cari selamat sendiri” telah membuat mereka “sukses” dari segi peran sebagai guardian of value.Imbasnya, dunia kemahasiswaan di kampus Ganesha 10 ini akan menyempit dan terpisah dari dunia makro Indonesia alias masyarakat.Semua unsur-unsur penyusun kemahasiswaan ITB akan bergerak sendiri-sendiri dan cenderung reaktif.Unsur-unsur tersebut akan condong berinteraksi dengan unsur-unsur lain yang sama-sama menguntungkan meskipun sebatas hubungan jangka pendek, lakon yang mirip dengan dagang sapi khas Senayan.Tidak aneh pula jika Keluarga Mahasiswa (KM) ITB bercerai menjadi Keluarga Masing-Masing (KM) ITB.

Wajar juga andai nama mahasiswa ITB beralih menjadi siswa ITB.Meski , sisi positifnya, saya tidak perlu menghabiskan tinta untuk menorehkan kata “maha” di depan kata siswa.Meminjam pandangan teman saya, bahwa pembeda antara mahasiswa dengan siswa, yaitu mahasiswa berada di daerah antara mempertahankan nilai-nilai ideal yang dianutnya dengan realita yang terjadi, sedangkan siswa hanya mencoba mengikuti realita yang terjadi.

Ada sebuah penggalan dari catatan harian seorang mahasiswi, yang dapat menjadi reflektor apakah sesosok manusia layak disebut mahasiswa ataukah hanya pantas menjadi siswa belaka yang hanya mencari keselamatan pribadi:

“tentara mau mecah-mecah kita, kagak bisa,

eh mereka mau ngelabrak pake pagar betis,

ngeriii…!!!

sama cewe-cewe yang laen aku terus kedepan, duduk disono,

ceritanya biar tentara kagak jahat-jahat,

nggak taunya sama aja, ngga cewe ngga cowo, diinjek sih diinjek aja,

gue dan temen-temen laen mulai ditarik-tarik biar pisah dari barisan,

gue jelas bertahanm gengsi ya, ditarik-tarik tentara mau aja,

tapi gue kagak kuat juga,

………………………………….”

(Catatan Harian Kiswanti-Pedudukan Kampus yang Kedua- 9 Februari 1978)

Pustaka:

Kisah-Kisah Sebuah Angkatan.

Pelet Akustik

Mei 12, 2009 at 3:47 pm | In Uncategorized | 2 Comments

Wanita suka suara nge-bass

Mencoba menarik perhatian dari lawan jenis merupakan sesuatu yang lumrah di dalam kehidupan ini. Hal tersebut berlaku juga dalam diri manusia.Berusaha mencari penyebab dan alasan ilmiah dari fenomena tersebut merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Motifnya sederhana, yaitu dalam gejala kesukaan terhadap lawan jenis, umumnya yang dominan adalah sisi perasaan dibandingkan akal, alias ketidaklogisan. Sehingga, pembahasan mengenai wacana tersebut lebih baik dikesampingkan dan membiarkan sesuai guratan nasib dari Yang Maha Kuasa.

Uraian yang lebih ilmiah justru dapat ditelusuri dari cara-cara seseorang mendayagunakan segala kemampuan yang dimilikinya untuk menarik perhatian lawan jenis, dalam kasus ini antar manusia. Seseorang akan berusaha tampil sesempurna dan sekeren mungkin agar lawan jenis mampu bertekuk lutut, minimal menaruh hati terhadap dirinya. Usaha tersebut akan berlipat ganda, bila yang dituju adalah orang yang disukainya. Sehingga seseorang akan berusaha mencari tahu hal-hal yang mampu menarik perhatian “yang terkasih” dan berupaya menjadikan dirinya memiliki hal-hal tersebut.Dari sifat alamiah yang membedakan antara pria dan wanita, yang mana umumnya pria lebih agresif daripada wanita, maka mencari tahu hal-hal yang menarik perhatian lawan jenis ini merupakan salahsatu “rutinitas” dari kaum Adam tersebut,  dibandingkan kaum Hawa yang relatif tidak bergerak.

Salahsatu yang mampu memikat wanita, yaitu dari sisi suara sang pria.Ada penelitian yang dilakukan oleh  tim ilmuwan itu di jurnal Biology Letters bahwa wanita pada umumnya menganggap suara laki-laki yang lebih maskulin (lebih rendah frekuensinya, bahasa umumnya:”lebih nge-bass”),  lebih menarik.

Suara pria lebih rendah daripada suara wanita

Secara umum, dari sisi tinggi rendahnya nada suara , nada suara pria rata-rata  setengah  lebih rendah daripada nada suara wanita. Hal ini disebabkan oleh massa dan ketegangan pita suara.Pria memiliki pita suara yang lebih panjang dan berat daripada wanita. Pria memiliki frekuensi dasar yang lazim pada 125 Hz, sedangkan wanita memiliki frekuensi dasar satu oktaf (dua kali lipat) lebih tinggi daripada pria yaitu sekitar 250 Hz. Frekuensi terendah yang dapat dicapai oleh seorang penyanyi bas yaitu sekitar 64 Hz, sedangkan frekuensi tertinggi yang dapat dicapai oleh penyanyi soprano, yaitu sekitar 2048 Hz.

Adapun suara manusia sendiri berasal dari pita suara.Pita suara (vocal fold) adalah ‘mesin’ penghasil suara bagi manusia.Untuk menghasilkan suara, pita suara harus bergetar ratusan bahkan ribuan kali per detiknya, tergantung nada atau frekuensi yang kita ucapkan. Pita suara sendiri terletak di perbatasan faring dan trakea.Pita suara merupakan susunan dari tulang rawan, otot, dan membran mukosa yang membentuk semacam lempengan di ujung trakea, berada di sebelah kiri dan kanan dari ujung saluran nafas atau trakea. Membran mukosa ini membungkus otot dan tulang rawan.

Pita suara yang normal dapat bergerak membuka dan menutup, serta bergetar dengan baik. Bila kita dalam keadaan bernafas, pita suara akan membuka / memisah, dan udara yang kita hirup lewat hidung atau mulut akan masuk ke saluran yang ada di bawah pita suara menuju ke paru-paru. Dan bila kita berbicara, maka pita suara akan menutup dan bergetar.

Sedangkan faktor yang menentukan keunikan suara seseorang yaitu terletak pada perbedaan bentuk tenggorokan dan rongga hidung. Setiap individu masing-masing memiliki bentuk kedua organ tersebut yang berbeda sehingga suara yang dihasilkannya pun berbeda. Suara seseorang tidak dapat diubah secara alamiah, hanya dapat diubah secara paksa dengan mengecilkan rongga hidung alias memencet hidung atau adanya gangguan pada sistem pernapasan (hidung, tenggorokan, dkk.)

Penjelasan tersebut sejalan dengan konsep tentang suara yang menyatakan bahwa getaran dari suatu sumber (dalam hal ini pita suara) akan menyebabkan merambatnya gelombang dalam medium udara berupa perubahan tekanan (pressure) secara merapat dan merenggang (longitudinal) yang bentuknya juga khas. Setiap benda (pita suara masing-masing individu) memiliki karakteristik material (struktur atom ataupun morfologi) yang berbeda, sehingga jika sebuah benda digetarkan dapat menyebabkan bunyi yang terdengar akan terasa berbeda pula jika dibandingkan dengan benda yang lainnya.

Manipulasi suara

Berdasarkan paparan tentang suara pria yang umumnya lebih rendah daripada suara wanita dan adanya rasa persaingan bagi para pria agar memiliki suara yang lebih nge-bass agar terkesan lebih maskulin, maka terbetik dua hal yang dapat dijadikan solusi.

Solusi pertama yaitu dengan menggunakan alat pengubah suara.Di pasaran, sebenarnya sudah banyak ditawarkan alat jenis ini, tetapi tidak spesifik untuk membuat suara pria menjadi lebih maskulin.Secara prinsip, alat yang seperti buatan Prof.Agasa dalam komik Detective Conan, merupakan alat yang memanipulasi sinyal untuk mendapatkan karakteristik sinyal yang sesuai dengan si pemilik suara.

Dua faktor yang menentukan karakteristik sinyal suara seseorang, yaitu dari segi frekuensi dasar dan dari segi warna suara (timbre).Syarat umum dari kedua faktor tersebut sehingga dapat dimanipulasi sinyalnya (dengan transformasi Fourier),   yaitu adanya keteraturan secara waktu (periodik).Meskipun memiliki syarat yang sama, namun warna suara lebih sulit dilakukan identifikasi karena getaran gelombang suara cukup kompleks, dan biasanya bergetar dalam beberapa frekuensi secara simultan. Inilah sebenarnya yang menyebabkan suara masing-masing benda berbeda dikarenakan “muatan harmonik” warna suaranya berbeda pula.

Kemudian, sinyal yang telah teridentifikasi ini, dimasukkan ke dalam rangkaian filter, dalam kasus membuat suara lebih nge-bass, menggunakan low pass filter, lalu digunakan converter (Analog to Digital Converter) kemudian masuk ke prosesor (pengolah sinyal, komputer dan sejenisnya), kemudian diubah lagi oleh Digital to Analog Converter,selanjutnya dihubungkan ke transdusernya.

Hal lain yang dapat dijadikan solusi, meskipun lebih sulit dilakukan yaitu membuat suasana ruangan menjadi lebih maskulin, dalam arti mengakibatkan suara pria menjadi lebih nge-bass.Secara desain akustik, hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan bahan penyerap dan atau kedap suara (tergantung fungsi ruangan), yang mampu untuk menguatkan suara frekuensi rendah dan melewatkan suara frekuensi tinggi.Hanya saja, kendala yang dihadapi yaitu dinding bahan-bahan tersebut dapat menjadi sumber suara baru yang dapat mengakibatkan kebisingan, dan juga suara wanita yang pria tersebut ingin dipikat lebih sulit didengar karena frekuensi tinggi yang malah coba dihilangkan, dan bahkan dapat menjadi aneh terdengarnya.

Cara lain, yaitu menggunakan sistem tata suara (sound system), dalam hal ini dapat digunakan subwoofer. Tetapi, yang menjadi batu sandungan yaitu pria tersebut harus memakai transduser, dalam hal ini mikrofon untuk berbicara dengan wanita impiannya, dan jelas hal tersebut merupakan sesuatu yang janggal. Permasalahan lain dari desain akustik untuk mendapatkan kesan yang lebih maskulin ini, yaitu ruangan tersebut haruslah ruangan privasi karena jika menggunakan pemanfaatan desain akustik tanpa sistem tata suara khusus, maka jika ada pria lain yang secara alamiah memiliki suara lebih nge-bass dari Anda, alih-alih mendapatkan perhatian wanita pujaan, malah wanita pujaan tersebut akan pindah ke lain hati.

Terakhir, jika memang Anda, pria yang memiliki keingintahuan untuk mewujudkan dan menggunakan pelet akustik (alat pengubah suara dan desain akustik agar suara pria menjadi lebih maskulin) ini, maka pastikan dulu bahwa wanita pujaan Anda memang menyukai pria bersuara nge-bass, karena jika tidak maka, runyam.

Pustaka:

http://64.203.71.11/ver1/Iptek/0608/03/181402.htm

http://andrimirzal.googlepages.com/diary-kinikutahu

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/09/070926_men_kids.shtml

http://erabaru.or.id/200904302162/beberapa-jati-diri-tubuh-manusia.html

http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com/2009/01/pita-suara-manusia-yang-menakjubkan.html

http://books.google.co.id/books?isbn=9794487759

http://netsains.com

Sang Legenda Menang(is)

Mei 10, 2009 at 10:46 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Manusia harus mengerahkan kemampuan yang ia miliki untuk mampu bertahan hidup dan mencapai tujuan.Tetapi, terkadang hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan kerja keras dan cerdas yang telah ditempuh.Dan manusia seyogyanya menerima suratan nasib yang telah digariskan tersebut dengan lapang dada. Menilik persoalan semacam itu, pelajaran menarik bisa kita comot dari ranah yang menjunjung sportivitas alias keikhlasan dalam menerima apapun hasil yang terjadi, yaitu dari dunia olahraga, tepatnya tenis.
Persaingan untuk menjadi yang nomor satu di kancah pertenisan putra dunia, melahirkan suatu siklus pertempuran antara dua pemain yang relatif seimbang dari segi kemampuan maupun mental.Siklus yang sering disebut sebagai rivalitas.Dulu orang mengenal Sampras-Agassi, Edberg-Becker, dan sekarang pengagum tenis sedang dimanjakan oleh dua petenis yang kelak akan menjadi legenda (legend in the making), Roger Federer versus Rafael Nadal.
Awal perjumpaan mereka terjadi di ajang ATP Masters Series Miami, yang dimenangi Nadal dengan 6-3 dan 6-3 pada tahun 2004, kemudian mereka bergiliran menjadi nomor satu dunia yang dimulai dari era Federer hingga Agustus 2008 dengan Nadal menjadi nomor dua, kemudian mereka bertukar kedudukan hingga sekarang.Setiap pertandingan mereka selalu diwarnai dengan warna yang kontras dari segi karakter dan gaya bermain.Federer yang kalem dan cenderung flamboyan dalam bermain, menghadapi Nadal yang ekspresif dan bertenaga kala bertanding.
Puncaknya, salahsatu pertandingan tenis yang akan dikenang sebagai salahsatu pertandingan paling menarik dan menegangkan,yaitu pada final Australia Terbuka 2009 yang dimenangi oleh Nadal dengan skor 7-5, 3-6, 7-6, 3-6 dan 6-2.Bukan hanya dari segi lama dan ketatnya pertandingan yang melabeli duel tersebut sebagai salahsatu duel terbaik sepanjang masa, tapi juga determinasi kedua pemain, keinginan untuk tidak mau kalah, semangat pantang menyerah dari kedua pemain, dan yang paling penting, kemampuan untuk berbesar hati menerima kekalahan.
FedEx(julukan Federer) seusai pertandingan melelahkan tersebut, ketika diberi kesempatan memberikan kata sambutan, perlu waktu sejenak untuk menyeka air matanya terlebih dahulu dan menormalkan suaranya akibat menangis. “Ini luar biasa untuk dunia olahraga,” begitu Federer mengawali sambutannya. “Ya Tuhan, ini membunuh saya. Saya mencintai permainan ini, permainan ini adalah segalanya bagi saya dan itu sungguh menyakitkan ketika kamu kalah,” lirih Federer. Federer pun segera menghibur dirinya sendiri. “Namun Anda tidak bisa kemudian pergi ke ruang ganti, kemudian mandi air dingin. Santai saja. Anda akan segera keluar dari masalah ini,” tuturnya.Lalu dia berhenti, tersendat-sendat, dan mencoba mengatasi kekecewaaan besarnya dengan mengatakan, “Mungkin aku akan mencobanya lagi”.
Ya, Sang Legenda menangis karena kalah.Namun, bukan karena tidak menerima kekalahan, melainkan ekspresi kekecewaan setelah mengerahkan segala daya upaya untuk menang.FedEx yang selalu dingin ketika bertanding kembali menjadi manusia, karena ia kalah.FedEx mengetahui bahwa dia tidak dapat mengubah hasil apapun karena sudah jelas kalau dia memang kalah dari Sang Legenda lainnya, Nadal.Dia juga sadar, impiannya merengkuh gelar GrandSlam ke-14 kalinya untuk menyamai rekor Sampras pun tertunda.
Di tengah isak tangis FedEx, Sang Legenda lainnya alias yang telah mengalahkan FedEx, yaitu Nadal, dengan penuh kebesaran jiwa, tidak pongah dan merasa jumawa.Dia justru bersimpati terhadap perasaan rivalnya tersebut dan berujar, “Maaf untuk kejadian hari ini. Saya tahu perasaan Anda sekarang.Ini benar-benarberat,”kata Nadal.”Tapi ingat, Anda adalah juara sejati. Anda salah satu petenis terbaik dalam sejarah dan Anda sedang memburu rekor Sampras. Saya tahu Anda akan berhasil melakukannya,”
Lagi-lagi sebuah pesan moral tinggi dari sebuah rivalitas yang dilandasi oleh kompetisi sehat untuk menjadi yang terbaik dari dua orang calon legenda tenis.Cukup dengan sebuah pertandingan yang merepresentasikan arti sportivitas yang pantas ditiru oleh khalayak ramai, ketika ada Sang Legenda yang menang dan menangis.
Pustaka:
Foto berasal dari:
1.Federer menangis (AFP/William West)
2.Federer dan Nadal (Reuters)
Website:
1. www.atpworldtour.com
2. www.rogerfederer.com
3. www.rafaelnadal.com
4. www.bolanews.com/tenis/

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.