Terbangun dari lamunan, lalu saya terhenyak sadar kembali ke realita, teringat atau mungkin coba mengingat bahwa tanggal 28 Oktober memang Hari Sumpah Pemuda. Sejurus kemudian, saya mengambil buku yang konon dapat membuat orang pintar (baca: Buku Pintar), sambil mencocokan ingatan, mungkin lebih tepatnya hafalan dari isi Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh para tetua kita dulu.
Sebuah senyum simpul memaniskan wajah, terkembang di paras saya. Beruntung suasanan kala itu bak kara sehingga saya tidak dikira mengada-ngada karena kekehan pelit yang nyaris terdengar dari wakil harimau di diri saya.
Sayangnya, kekehan tersebut mengantarkan saya kembali berasyik masyuk dengan dunia lamunan yang genit menggoda. Hal tersebut gara-gara janji ketiga yang dilontarkan oleh para tetua kita dulu.”…dan Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”
Di dalam alam lamunan tersebut, setelah teringat kembali janji ketiga oleh para tetua kita tersebut, lalu terngiang ucapan teman saya yang meralat pelafalan perkataan saya terhadap kata “mobil” ( kata serapan dari mobile) dan “ikon” ( kata serapan dari icon ). Dia berujar bahwa pelafalan saya salah, seharusnya pelafalannya harus sesuai dengan kata mobile dan icon. Gara-gara memori tersebut, mengakibatkan banyak protes entah darimana menggema di balik tengkorak saya.
“Bukankah saya sedang mengobrol dengan teman saya yang asli Indonesia? Mengapa harus memakai lafal asing? Mungkin dia belum tahu bahwa dua kata tersebut telah diserap dan dibuat padanannya dalam Bahasa Indonesia, tetapi mengapa banyak orang yang belum tahu? Saya menuntut ilmu di institusi yang menjunjung kekonsistenan, menyangkut juga konsisten dalam berbicara, tetapi mengapa guru-guru saya juga terkadang bersikap seperti teman saya itu? Bukankah guru-guru dan teman saya tersebut merupakan orang Indonesia dan berkomunikasi dengan saya yang tercatat sebagai WNI?
Oh benar juga, bukankah yang berjanji pada Sumpah Pemuda itu adalah para tetua kita, jadi walaupun dosa, jika saya melanggar Sumpah Pemuda tersebut, tidak terlalu besar kadar dosanya!”, begitulah protes yang bertalu-talu di sel-sel kelabu saya.
Untungnya, suara-suara tersebut mendadak reda, dan saya tidak perlu meminta petunjuk-Nya untuk menentukan sikap. Ya, saya memilih untuk melafalkan “mobil” dan “ikon” daripada melafalkan mobile dan icon ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia. Mengapa? Ya, karena saya orang Indonesia.
ini hanya tulisan saya yang usil
jadi tidak perlu memicingkan pupil
meski lebih baik daripada mengupil sambil menonton gosip Aril
semoga saja tidak ada yang tersentil
lalu menganggap saya bakhil
anggap saja ini sumbangan kecil
agar Indonesia lebih berhasil