RSS

Ikon dan Mobil

29 Okt

Terbangun dari lamunan, lalu saya terhenyak sadar kembali ke realita, teringat atau mungkin coba mengingat bahwa tanggal 28 Oktober memang Hari Sumpah Pemuda. Sejurus kemudian, saya mengambil buku yang konon dapat membuat orang pintar (baca: Buku Pintar), sambil mencocokan ingatan, mungkin lebih tepatnya hafalan dari isi Sumpah Pemuda yang diikrarkan oleh para tetua kita dulu.

 

Sebuah senyum simpul memaniskan wajah, terkembang di paras saya. Beruntung suasanan kala itu bak kara sehingga saya tidak dikira mengada-ngada karena kekehan pelit yang nyaris terdengar dari wakil harimau di diri saya.

 

Sayangnya, kekehan tersebut mengantarkan saya kembali berasyik masyuk dengan dunia lamunan yang genit menggoda. Hal tersebut gara-gara janji ketiga yang dilontarkan oleh para tetua kita dulu.”…dan Kami Putra dan Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

 

Di dalam alam lamunan tersebut, setelah teringat kembali janji ketiga oleh para tetua kita tersebut, lalu terngiang ucapan teman saya yang meralat pelafalan perkataan saya terhadap kata “mobil” ( kata serapan dari mobile) dan “ikon” ( kata serapan dari icon ). Dia berujar bahwa pelafalan saya salah, seharusnya pelafalannya harus sesuai dengan kata mobile dan icon. Gara-gara memori tersebut, mengakibatkan banyak protes entah darimana menggema di balik tengkorak saya.

 

“Bukankah saya sedang mengobrol dengan teman saya yang asli Indonesia? Mengapa harus memakai lafal asing? Mungkin dia belum tahu bahwa dua kata tersebut telah diserap dan dibuat padanannya dalam Bahasa Indonesia, tetapi mengapa banyak orang yang belum tahu? Saya menuntut ilmu di institusi yang menjunjung kekonsistenan, menyangkut juga konsisten dalam berbicara, tetapi mengapa guru-guru saya juga terkadang bersikap seperti teman saya itu? Bukankah guru-guru dan teman saya tersebut merupakan orang Indonesia dan berkomunikasi dengan saya yang tercatat sebagai WNI?

Oh benar juga, bukankah yang berjanji pada Sumpah Pemuda itu adalah para tetua kita, jadi walaupun dosa, jika saya melanggar Sumpah Pemuda tersebut, tidak terlalu besar kadar dosanya!”, begitulah protes yang bertalu-talu di sel-sel kelabu saya.

 

Untungnya, suara-suara tersebut mendadak reda, dan saya tidak perlu meminta petunjuk-Nya untuk menentukan sikap. Ya, saya memilih untuk melafalkan “mobil” dan “ikon” daripada melafalkan mobile dan icon ketika berkomunikasi dengan orang Indonesia. Mengapa? Ya, karena saya orang Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

ini hanya tulisan saya yang usil

jadi tidak perlu memicingkan pupil

meski lebih baik daripada mengupil sambil menonton gosip Aril

semoga saja tidak ada yang tersentil

lalu menganggap saya bakhil

anggap saja ini sumbangan kecil

agar Indonesia lebih berhasil

 

Tentang gigihpthenextlegend

suka tantangan, moody, suka menyelidik.saat ini masih menjadi mahasiswa di Teknik Fisika ITB, dengan minat di pemrosesan material.
Leave a comment

Posted by pada Oktober 29, 2010 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.