Renungan Tentang Cinta

Juni 5, 2009 at 11:40 pm | In Cinta | 1 Comment

Cinta merupakan bahasa universal.Cinta merupakan obat bagi yang gagal.CInta merupakan sesuatu yang tidak harus dihafal.Dan cinta merupakan latihan mental.

Cinta itu gundah.Cinta itu indah.Cinta itu anugrah.Dan cinta itu marhabah.

Namun………………………………………………………………………………………………………………………………………..

CInta sulit  dimengerti.CInta sulit dimaknai.CInta sulit dipahami.Dan cinta sulit distandardisasi.

Menarik memang bila seseorang membahas tentang cinta. Sesuatu bahasan yang dijamin membuat seseorang betah untuk mendengarkan, menuliskan, dan mengucapkan. Begitu mudah, entah itu pujangga, penulis, musisi, hingga orang-orang yang kepalang tanggung jatuh cinta mengaitkan satu per satu kata hingga menjadi barisan kata yang menarik dan menggoda.

Sulit untuk membayangkan bila dunia ini tanpa cinta. Sesulit pula mencerna alasan seseorang untuk mencintai orang lain(selain diri dan keluarganya/cinta lawan jenis). Melogikakan cinta mungkin dapat pula berarti meirasionalkan cinta. Secara vulgar, logika cinta mungkin dapat membuat logika akal bertekuk lutut.

Seorang wanita dengan mudah akan berkata, “Saya mencintai dia karena dia baik”. Tentu tidak ada yang janggal dengan kalimat dan alasan wanita tersebut. Tapi, timbul suatu pertanyaan yang mungkin tidak akan ada jawaban yang logis untuk menjawabnya.Sebuah pertanyaan yang berbunyi,” Mengapa kamu mencintai pria/wanita tersebut (misal X1) padahal pria/wanita lain (X2) juga baik?”

Sebuah pertanyaan yang hampir dipastikan (padahal saya ingin bilang pasti), tidak ada jawabannya. Pertanyaan yang membuahi setumpuk pertanyaan lain. Pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab. Dan mungkin pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan!

Bisa saja sang wanita/pria tersebut menjawab bahwa selain baik, dia juga pintar, tampan/persamaan kata tampan bagi wanita. Jika memang kalimat tersebut yang menjadi jawaban, jelas sekali belum menjawab. Masih ada lubang besar yang menganga dari jawaban tersebut. Akan ada pertanyaan susulan dengan cukup mengganti kata sifat pada pertanyaan awal dengan kata sifat pada jawaban kedua. Dan mungkin akan lahir pula pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

Menganalisis jawaban-jawaban tersebut, mungkin akan mengarahkan kesimpulan bahwa pertanyaan tersebut memang tidak ada jawaban yang masuk akal. Dan bukankah tidak ada yang dapat mendefinisikan kata sifat?  Dan di sanalah ketidaklogisan cinta mulai terlihat. Tentu bila renungan tersebut diperluas, bukan hanya masalah pertanyaan sepele tersebut yang menjadi tidak logis. Bukankah waktu, tenaga, materiil, juga banyak diumbar “hanya” untuk  mendapatkan cintanya. Lebih “lucu “ lagi jika segala daya upaya yang pria/wanita tersebut lakukan hanya berujung pada gigit jari semata. Kalah oleh seseorang yang “hanya” melakukan upaya setengah dari yang kita lakukan.

Apapun pembahasan dari ketidakmasukalan cinta tetap tidak menggoyahkan salahsatu rumus cinta. “Apapun yang kamu lakukan untuk membuka pintu hatinya, jika pintu itu tidak mau terbuka, maka kamu tidak akan pernah dapat membukanya.”

1 Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. salam kenal ^^
    menarik sekali..
    kunjungan balik sangat diharapkan


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.