Blunder PKS Bikin Keder

Mei 20, 2009 at 2:22 pm | In Politik | 1 Comment

Sikap PKS yang secara tiba-tiba mendukung pencalonan Boediono sebagai cawapres bagi SBY menimbulkan gumpalan pertanyaan. Tidak hanya bagi rakyat awam semata, melainkan juga bagi kader-kader partai dakwah tersebut. Awalnya, PKS menolak sikap “egois” Partai Demokrat yang dalam hal ini direpresentasikan oleh sosok SBY, yang memilih secara sepihak figur Boediono sebagai calon RI-2. Tetapi, menjelang detik-detik batas pendaftaran calon capres-cawapres RI 2009-2014, PKS menyanjung Boediono sebagai pasangan yang cocok bagi SBY.

Semula, Presiden PKS menyebutkan bahwa Boediono bukan sosok yang merepresentasikan umat Islam, namun setelah tercapainya kesepakatan yang menggolkan bergabungnya PKS ke dalam kutub SBY-Boediono, Tifatul Sembiring, menyebutkan bahwa figur Boediono sangat layak mendampingi SBY. Tentu suatu gelagat yang mencurigakan jika suatu hal yang semula menentang dapat berbalik mendukung dalam tempo yang relatif singkat. Dan, hal tersebutlah yang diperbincangkan banyak orang, sehingga mencap PKS sebagai partai yang tidak konsisten dan sama saja seperti partai lain, yaitu mengejar kekuasaan. Dalam arti, opini tersebut mengungkapkan bahwa kegagalan PKS mendapatkan kursi RI-2, coba ditukar dengan porsi kursi menteri di kabinet.

Tentunya, opini umum yang terbentuk tersebut, seyogyanya telah dianalisis dan diantisipasi oleh petinggi-petinggi PKS. Citra, partai yang bersih, pro rakyat, dan professional, menjadi bahan pertaruhan. Citra tersebut akan berubah di mata para pemilih PKS yang bukan kader, karena kasus ini.  Secara riil, anggapan para pemilih PKS yang bukan kader PKS akan menuju pada satu kesimpulan : PKS haus kekuasaan.Sehingga citra yang telah terbentuk akan musnah dalam sekejap.

Efek positif dari langkah mengejutkan yang diambil oleh PKS yaitu akan mengakibatkan munculnya kader-kader tulen. Kader-kader yang benar-benar tunduk dan patuh terhadap keputusan dari pusat. Kader-kader yang akan berjuang dan berusaha meraup kembali simpati masyarakat dengan kinerja yang optimal. Sayangnya efek tersebut tidak akan cukup menutupi dampak negatif yang ditimbulkannya.

Di kalangan masyarakat, sudah banyak komentar yang berisikan ketidakpercayaan rakyat terhadap PKS dan ajakan agar mengalihkan dukungan kepada JK-Wiranto. Mungkin saja , mereka yang berkata seperti itu adalah orang yang bukan kader PKS, tapi perlu digarisbawahi bahwa mereka yang berucap seperti itu adalah masyarakat level menengah-atas yang berpendidikan. Artinya, mereka memiliki kemampuan untuk memilih seobjektif mungkin. Secara moril, pindah haluannya orang-orang berpendidikan tersebut, tentu merupakan pukulan telak bagi PKS, apalagi jika PKS mencanangkan ingin meraih RI-1 pada pemilu 2014. Meskipun demikian, untuk pemilu 2009 kali ini, “membelotnya” orang-orang tersebut tidak akan berefek besar bagi kemenangan SBY-Boediono.

Di sisi internal partai, tidak sedikit aktivis-aktivis ataupun orang-orang yang mengaku aktivis di PKS yang mempertanyakan sikap PKS dan banyak juga yang protes hingga akhirnya tidak lagi mendukung PKS alias mundur atau mbalelo. Lebih berbahaya lagi, yaitu jika orang-orang tersebut berusaha secara laten mempengaruhi kader lainnya, dan bergerilya di masyarakat tentang ketidaksetujuan mereka.

Akibat-akibat negatif tersebut akan mirip seperti penyakit kronis. Pelan-pelan akan menggerogoti hingga parah. Tentu hal ini tidak akan terasa di pemilu 2009 ini, tetapi di pemilu 2014. Pengejewantahan PKS sebagai partai pro rakyat pelan-pelan mulai terkikis, dan jika PKS tidak mampu menjawab pertanyaan tentang sikap mereka terkait pencalonan Boediono, maka mereka akan tenggelam. Jawaban yang harus secara riil alias bukan sekedar silat lidah. Ingat, untuk merebut kursi RI-1, tidak cukup hanya dengan kader-kader, melainkan juga butuh dukungan rakyat. Untuk saat ini, PKS tidak memiliki tokoh sepopulis SBY, dan sayangnya hal yang dibutuhkan untuk mengimbangi kepopuleran seseorang, yaitu simpati rakyat juga tidak dimiliki oleh PKS. Tapi, masih ada lima tahun lagi, jadi tenang saja!

Sumber:

www.metrotvnews.com

www.pk-sejahtera.org

www.detik.com

www.kompas.com

Koran Tempo tanggal 13 Mei 2009

www.temporinteraktif.com

1 Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. Wow, tampaknya yakin sekali SBY-Boediono bakal memenangkan pilpres kali ini. Perlu diingat bahwa tidak hanya PKS saja yang sebagian suaranya mungkin ‘lari’ ke pasangan lain, beberapa partai koalisi kubu Demokrat mengalami perpecahan. Tidak sedikit yang awalnya hampir pasti memilih SBY sebagai presiden namun belakangan beralih ke pasangan lain karena faktor Boediono. Seperti halnya pemilih mengambang di Amerika Serikat. Banyak di antaranya yang ingin memilih John McCain, tetapi tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi seandainya setelah McCain menjadi presiden terjadi sesuatu pada diri McCain sehingga Amerika Serikat dipimpin oleh seorang Sarah Palin yang kemampuannya terlihat meragukan ketika berdebat.

    pengen komentar lagi tapi keknya kepanjangan nih :)


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.