Teknik Sapu Jagad ITB

Mei 12, 2009 at 4:04 pm | In Uncategorized | Leave a Comment

“Saya kurang yakin, karena dia tidak mempunyai pengalaman dan latar belakang untuk bisnis sektor hilir, sektor distribusi BBM”, ujar Kurtubi, pengamat perminyakan ketika mengomentari terpilihnya Karen Agustiawan sebagai Direktur Utama Pertamina.Dia juga mengatakan bahwa, latar belakang pendidikan Karen yang tidak berkaitan langsung dengan perminyakan akan menjadi kendala saat memimpin Pertamina.

Suatu hal yang menarik bila mencermati dan menelaah ucapan dari Kurtubi tersebut.Secara sekilas, tendensi orang awam akan menganggap Karen Agustiawan tidak mempunyai kapabilitas yang cukup untuk memimpin Pertamina.Tetapi, apakah memang demikian faktanya? Demi menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya jika kita melihat track record seorang Karen Agustiawan.

Setelah lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1978, Karen memulai perjalanan karirnya di berbagai industri minyak dan gas, diantaranya Mobil Oil Indonesia (1984-1996) dan Halliburton Indonesia (2002-2006). Selama bekerja di Mobil Oil, Karen memegang beberapa posisi termasuk sistem analis dan programmer untuk pengembangan perhitungan cadangan (reserve calculation), processor seismik, dan sistem pengontrol kualitas untuk berbagai projek seismik. Karen juga pada waktu itu adalah pemimpin proyek departemen komputasi eksplorasi (exploration computing department). Pada tahun 2002, ia menjadi wanita pertama Indonesia yang direkrut sebagai commercial manager di Halliburton Indonesia. Kemudian, tahun 2006 lalu barulah Karen bergabung bersama Pertamina sebagai Direktur Pertamina Hulu.Jelas, dengan pengalaman seperti itu, maka Karen memiliki kualifikasi untuk menjadi seorang Dirut Pertamina, artinya Karen bukanlah sekedar anak bau kencur di dalam industri perminyakan bila ditinjau dari segi pengalaman.Tetapi, yang agak meragukan dari Karen adalah latar pendidikan yang digelutinya.Karen “hanyalah” seorang sarjana Teknik Fisika.Sebuah bidang keilmuan yang orang awam akan sulit menghubungkannya dengan dunia emas hitam tersebut.Lalu, apakah Karen benar-benar tidak mempunyai dasar keilmuan yang berhubungan dengan ranah perminyakan, atau sebuah pertanyaan lugas terucap, “Apa itu Teknik Fisika?”.

Secara umum, Teknik Fisika (TF) dikenal sebagai program studi yang mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan aspek fisika dan teknologi. Dengan begitu, keilmuan yang diberikan di sini akan membuat teman-teman memiliki kemampuan untuk memandang persoalan teknik dengan pandangan yang luas dilihat dari berbagai aspek kefisikaannya. Oleh karenanya, tidak mengherankan jika dilihat banyak pelajaran di Teknik Fisika yang sebenarnya mirip atau sama dengan program studi lain seperti program studi Teknik Elektro, Teknik Mesin, Teknik Kimia, dan Teknik Material. Dalam dunia industri seorang lulusan TF mempunyai kemampuan menjadi ”jembatan” bidang-bidang teknik yang lain. Dasar-dasar keilmuan TF yang lebih luas membuat seorang insinyur TF akan bisa menganalisa masalah yang melibatkan beberapa bidang teknik. Hal inilah yang merupakan salah satu keunggulan lulusan TF. Namun, bukan berarti seorang lulusan TF tidak memiliki keahlian spesifik. Bila orang berbicara tentang instrumentasi dan kontrol, maka lulusan TF lah yang pertama kali disebut. Bila orang membahas bidang akustik maka yang akan menjadi sorotan adalah lulusan TF. Tata cahaya atau lighting juga dikuasai oleh lulusan TF. Begitu pula dengan teknologi pendinginan ruangan (air conditioning) lulusan TF adalah ikonnya.

Sekelumit penjelasan tersebut tampaknya secara tersurat tidak mencerminkan adanya semacam simbiosis mutualisme antara TF dengan ranah perminyakan.Tetapi, bila menelaah lebih jauh dan mencoba mencari informasi tambahan, maka secara tersirat akan tampak benang merah antara perminyakan dengan TF. Dalam dunia industri proses, contohnya industri perminyakan, ilmu yang dipelajari di program studi Teknik Fisika memiliki efek yang nyata. dalam pengontrolan sebuah proses terkadang tidak cukup hanya mengetahui seluk beluk tentang alat pengontrol (controller) saja namun juga terkadang kita harus mengetahui proses apa yang ingin kita kontrol dari proses itu apa variabel yang harus di kontrol lalu untuk proses yang demikian sensor apa yang tepat dalam sistem kontrolnya dan mode pengontrol apakah yang efisien di gunakan. Untuk dapat memahami seperti ini terkadang satu bidang Teknik saja tidak cukup, misal prosesnya cenderung termodinamik dan pengontrol yang digunakan menggunakan sinyal elektrik, Teknik Fisika kemudian mempunyai kemampuan untuk mengelaborasikan beberapa ilmu ini untuk bisa menyelesaikan permasalahan tersebut.

Simbiosis mutualisme antara TF dengan industri perminyakan tidak hanya terjadi pada pengontrolan, tetapi juga pada “ajian” lain yang dimiliki oleh TF yaitu akustik dan material. Akustik dipergunakan sebagai salahsatu teknik pencarian atau ekplorasi sumber minyak dengan memanfaatkan gelombang, sedangkan ilmu material dipakai untuk menganalisis kandungan minyak dan karakteristik material yang diperlukan sebagai sensor pengukuran. Belum lagi “ajian” lain seperti pemograman, ilmu pengukuran, ilmu sensor, pengkondisian suhu,ilmu robotika dll., semakin mempertegas jatidiri TF sebagai all around engineer atau insinyur yang mampu berada disegala bidang dengan kemampuan dasar Fisikanya yang memang luas, sehingga ia mampu untuk memecahkan permasalahan di masyarakat melalui keluasan pemahamannya.Sehingga tidak aneh bila banyak alumni TF yang bekerja di berbagai bidang bahkan terkadang seperti mengambil jatah orang lain dengan berkecimpung ke bidang lain, seperti jabatan Menristek, insinyur yang menangani proses kimia, psikolog, hingga yang teranyar jabatan Dirut Pertamina. Berdasarkan penjelasan tentang kemampuan seorang lulusan TF, maka suatu hal yang wajar bila Karen Agustiawan menduduki kursi Dirut Pertamina, artinya kompetensi Beliau pantas untuk mengambil amanah tersebut, baik dari segi pengalaman maupun dari sisi keilmuan.

Berpegangan kepada fakta bahwa Teknik Fisika memiliki cakupan keilmuan yang luas dan mempunyai sebaran alumni di berbagai bidang, dengan kompetensi yang telah teruji, maka sebutan TF sebagai teknik sapu jagad pantas untuk disematkan.

Ada pengalaman menarik dari Ir. H. Hermawan KD, Ph. D, dosen program studi Teknik Fisika ITB sewaktu mengikuti acara pertemuan tahunan ABET ( Acreditation Board for Engineering and Technology ) di National University of Singapore bulan Desember 2003. Saat itu beliau bertemu dengan Dr. Gloria Rogers direktur lembaga riset dan perencanaan Rose-Holman Institue of Technology ( R&HIT )sebuah perguruan tinggi teknik terbaik dengan reputasi riset yang cukup bagus bahkan tergolong terbaik di AS. Yang menarik dari perbincangan tersebut adalah di tahuni tu R&HIT baru saja membuka Department of Engineering Physics. Mereka berpendapat untuk menjawab tantangan zaman yang maskin menuntut pengembangan teknologi yang begitu kompleks maka dibutuhkan sebuah bidang teknik yang mempunyai fleksibillitas yang tinggi untuk menangani dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang harus diselesaikan menggunakan teknologi yang mana belum atau tidak tersentuh oleh berbagai bidang teknik “ tradisional “ yang sudah mapan kompetensinya “. Mendesaknya kebutuhan akan hal ini sampai membuat perguruan tinggi sekelas R&HIT membentuk Departemen Teknik Fisika untuk menjawab tantangan tersebut.

Pengalaman dosen TF ITB tersebut seakan semakin mengukuhkan bahwa Teknik Fisika memang teknik sapu jagad yang amat dibutuhkan oleh masyarakat luas.Lalu sekarang, siapa lagi yang masih ragu dengan Teknik Fisika?Anda?

Pustaka:

www.itb.ac.id/news/2326.xhtml

www.itb.ac.id/usm-itb/Prodi/133.htm

www.hukumonline.com/detail.asp?id=21112&cl=Berita

Belum Ada Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.