(Maha)Siswa ITB
Mei 12, 2009 at 3:54 pm | In Uncategorized | Leave a Comment
Untuk mewujudkan sosok bernama mahasiswa, diperlukan dua elemen krusial.Elemen pertama merupakan elemen yang lazim ada dari suatu institusi pendidikan yaitu kecerdasan intelektual.Elemen kedua berupa elemen yang menjadi tanggung jawab seorang mahasiswa terhadap sosial kemasyarakatan, lebih sering dikenal sebagai peran mahasiswa.Elemen kedua tersebut adalah faktor penentu seseorang memiliki kromosom yang menjadikannya bernama mahasiswa.Adapun elemen pertama hanya membuat seseorang bergelar siswa minus embel-embel maha, yang notabene umumnya sudah dipunyai oleh seseorang semenjak berguru di bangku sekolah dasar.
Peran mahasiswa secara umum berlandaskan pada tiga hal yang sering didengungkan oleh mahasiswa yang menamakan dirinya aktivis.Ketiga hal tersebut yaitu mahasiswa sebagai iron stock, guardian of value, dan sebagai agent of change.Mengaitkan ketiga hal tersebut dengan kehidupan massa kampus di Ganesha 10, fenomena menarik terjadi pada dua pilar terakhir dari peran mahasiswa, yaitu mahasiswa sebagai guardian of value dan agent of change.Mungkin diakibatkan oleh tingginya IQ dan kreativitas mahasiswa ITB, maka kedua pilar tersebut dapat ditransformasikan menjadi sesuatu yang berbeda.Lazimnya berbagai transformasi yang digunakan dalam ilmu eksakta, yang mana digunakan untuk mewujudkan tujuan dengan mengubah suatu fungsi matematis, maka demikian pula perlakuan terhadap kedua pilat tersebut.Hanya sayang, transformasi yang mereka lakukan telah merusak komposisi unsur-unsur penyusun pilar-pilar tersebut, yang bernama nilai-nila ideal.
Mahasiswa ITB tersebut mencoba mengubah nilai-nilai ideal yang mana nilai-nilai ideal tersebut telah menjadikan mahasiswa menjadi bagian dari rakyat.Dengan perubahan tersebut, terjadilah pengalihan makna dari arti nilai-nilai ideal menjadi nilai-nilai “i deal” alias nilai-nilai yang menjadi persetujuan antara pihak-pihak tertentu.Perubahan tersebut juga menyempitkan hubungan antar mahasiswa dan memutuskan hubungan mahasiswa dengan rakyat.Sehingga wajar jika, beberapa waktu terakhir, budaya egois dan apatis meningkat, skeptis dan studisentris pun mencuat.Konkretnya, budaya “cari selamat sendiri” menjadi nilai baru yang diusung.Budaya yang berkata, “Anda mau selamat?Mari kita buat kesepakatan, dan lupakan yang lain.”.
Lalu, terkait dengan dua pilar peran mahasiswa tersebut, maka “keberhasilan” perubahan nilai-nilai tersebut telah membuat mereka berhasil mewujudkan peran sebagai agent of change dan timbulnya budaya baru bernama “cari selamat sendiri” telah membuat mereka “sukses” dari segi peran sebagai guardian of value.Imbasnya, dunia kemahasiswaan di kampus Ganesha 10 ini akan menyempit dan terpisah dari dunia makro Indonesia alias masyarakat.Semua unsur-unsur penyusun kemahasiswaan ITB akan bergerak sendiri-sendiri dan cenderung reaktif.Unsur-unsur tersebut akan condong berinteraksi dengan unsur-unsur lain yang sama-sama menguntungkan meskipun sebatas hubungan jangka pendek, lakon yang mirip dengan dagang sapi khas Senayan.Tidak aneh pula jika Keluarga Mahasiswa (KM) ITB bercerai menjadi Keluarga Masing-Masing (KM) ITB.
Wajar juga andai nama mahasiswa ITB beralih menjadi siswa ITB.Meski , sisi positifnya, saya tidak perlu menghabiskan tinta untuk menorehkan kata “maha” di depan kata siswa.Meminjam pandangan teman saya, bahwa pembeda antara mahasiswa dengan siswa, yaitu mahasiswa berada di daerah antara mempertahankan nilai-nilai ideal yang dianutnya dengan realita yang terjadi, sedangkan siswa hanya mencoba mengikuti realita yang terjadi.
Ada sebuah penggalan dari catatan harian seorang mahasiswi, yang dapat menjadi reflektor apakah sesosok manusia layak disebut mahasiswa ataukah hanya pantas menjadi siswa belaka yang hanya mencari keselamatan pribadi:
“tentara mau mecah-mecah kita, kagak bisa,
eh mereka mau ngelabrak pake pagar betis,
ngeriii…!!!
sama cewe-cewe yang laen aku terus kedepan, duduk disono,
ceritanya biar tentara kagak jahat-jahat,
nggak taunya sama aja, ngga cewe ngga cowo, diinjek sih diinjek aja,
gue dan temen-temen laen mulai ditarik-tarik biar pisah dari barisan,
gue jelas bertahanm gengsi ya, ditarik-tarik tentara mau aja,
tapi gue kagak kuat juga,
………………………………….”
(Catatan Harian Kiswanti-Pedudukan Kampus yang Kedua- 9 Februari 1978)
Pustaka:
Kisah-Kisah Sebuah Angkatan.
Belum Ada Tanggapan »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.