Sang Legenda Menang(is)

Mei 10, 2009 at 10:46 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Manusia harus mengerahkan kemampuan yang ia miliki untuk mampu bertahan hidup dan mencapai tujuan.Tetapi, terkadang hasil yang didapatkan tidak sebanding dengan kerja keras dan cerdas yang telah ditempuh.Dan manusia seyogyanya menerima suratan nasib yang telah digariskan tersebut dengan lapang dada. Menilik persoalan semacam itu, pelajaran menarik bisa kita comot dari ranah yang menjunjung sportivitas alias keikhlasan dalam menerima apapun hasil yang terjadi, yaitu dari dunia olahraga, tepatnya tenis.
Persaingan untuk menjadi yang nomor satu di kancah pertenisan putra dunia, melahirkan suatu siklus pertempuran antara dua pemain yang relatif seimbang dari segi kemampuan maupun mental.Siklus yang sering disebut sebagai rivalitas.Dulu orang mengenal Sampras-Agassi, Edberg-Becker, dan sekarang pengagum tenis sedang dimanjakan oleh dua petenis yang kelak akan menjadi legenda (legend in the making), Roger Federer versus Rafael Nadal.
Awal perjumpaan mereka terjadi di ajang ATP Masters Series Miami, yang dimenangi Nadal dengan 6-3 dan 6-3 pada tahun 2004, kemudian mereka bergiliran menjadi nomor satu dunia yang dimulai dari era Federer hingga Agustus 2008 dengan Nadal menjadi nomor dua, kemudian mereka bertukar kedudukan hingga sekarang.Setiap pertandingan mereka selalu diwarnai dengan warna yang kontras dari segi karakter dan gaya bermain.Federer yang kalem dan cenderung flamboyan dalam bermain, menghadapi Nadal yang ekspresif dan bertenaga kala bertanding.
Puncaknya, salahsatu pertandingan tenis yang akan dikenang sebagai salahsatu pertandingan paling menarik dan menegangkan,yaitu pada final Australia Terbuka 2009 yang dimenangi oleh Nadal dengan skor 7-5, 3-6, 7-6, 3-6 dan 6-2.Bukan hanya dari segi lama dan ketatnya pertandingan yang melabeli duel tersebut sebagai salahsatu duel terbaik sepanjang masa, tapi juga determinasi kedua pemain, keinginan untuk tidak mau kalah, semangat pantang menyerah dari kedua pemain, dan yang paling penting, kemampuan untuk berbesar hati menerima kekalahan.
FedEx(julukan Federer) seusai pertandingan melelahkan tersebut, ketika diberi kesempatan memberikan kata sambutan, perlu waktu sejenak untuk menyeka air matanya terlebih dahulu dan menormalkan suaranya akibat menangis. “Ini luar biasa untuk dunia olahraga,” begitu Federer mengawali sambutannya. “Ya Tuhan, ini membunuh saya. Saya mencintai permainan ini, permainan ini adalah segalanya bagi saya dan itu sungguh menyakitkan ketika kamu kalah,” lirih Federer. Federer pun segera menghibur dirinya sendiri. “Namun Anda tidak bisa kemudian pergi ke ruang ganti, kemudian mandi air dingin. Santai saja. Anda akan segera keluar dari masalah ini,” tuturnya.Lalu dia berhenti, tersendat-sendat, dan mencoba mengatasi kekecewaaan besarnya dengan mengatakan, “Mungkin aku akan mencobanya lagi”.
Ya, Sang Legenda menangis karena kalah.Namun, bukan karena tidak menerima kekalahan, melainkan ekspresi kekecewaan setelah mengerahkan segala daya upaya untuk menang.FedEx yang selalu dingin ketika bertanding kembali menjadi manusia, karena ia kalah.FedEx mengetahui bahwa dia tidak dapat mengubah hasil apapun karena sudah jelas kalau dia memang kalah dari Sang Legenda lainnya, Nadal.Dia juga sadar, impiannya merengkuh gelar GrandSlam ke-14 kalinya untuk menyamai rekor Sampras pun tertunda.
Di tengah isak tangis FedEx, Sang Legenda lainnya alias yang telah mengalahkan FedEx, yaitu Nadal, dengan penuh kebesaran jiwa, tidak pongah dan merasa jumawa.Dia justru bersimpati terhadap perasaan rivalnya tersebut dan berujar, “Maaf untuk kejadian hari ini. Saya tahu perasaan Anda sekarang.Ini benar-benarberat,”kata Nadal.”Tapi ingat, Anda adalah juara sejati. Anda salah satu petenis terbaik dalam sejarah dan Anda sedang memburu rekor Sampras. Saya tahu Anda akan berhasil melakukannya,”
Lagi-lagi sebuah pesan moral tinggi dari sebuah rivalitas yang dilandasi oleh kompetisi sehat untuk menjadi yang terbaik dari dua orang calon legenda tenis.Cukup dengan sebuah pertandingan yang merepresentasikan arti sportivitas yang pantas ditiru oleh khalayak ramai, ketika ada Sang Legenda yang menang dan menangis.
Pustaka:
Foto berasal dari:
1.Federer menangis (AFP/William West)
2.Federer dan Nadal (Reuters)
Website:
1. www.atpworldtour.com
2. www.rogerfederer.com
3. www.rafaelnadal.com
4. www.bolanews.com/tenis/

Belum Ada Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.