Wanita suka suara nge-bass
Mencoba menarik perhatian dari lawan jenis merupakan sesuatu yang lumrah di dalam kehidupan ini. Hal tersebut berlaku juga dalam diri manusia.Berusaha mencari penyebab dan alasan ilmiah dari fenomena tersebut merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Motifnya sederhana, yaitu dalam gejala kesukaan terhadap lawan jenis, umumnya yang dominan adalah sisi perasaan dibandingkan akal, alias ketidaklogisan. Sehingga, pembahasan mengenai wacana tersebut lebih baik dikesampingkan dan membiarkan sesuai guratan nasib dari Yang Maha Kuasa.
Uraian yang lebih ilmiah justru dapat ditelusuri dari cara-cara seseorang mendayagunakan segala kemampuan yang dimilikinya untuk menarik perhatian lawan jenis, dalam kasus ini antar manusia. Seseorang akan berusaha tampil sesempurna dan sekeren mungkin agar lawan jenis mampu bertekuk lutut, minimal menaruh hati terhadap dirinya. Usaha tersebut akan berlipat ganda, bila yang dituju adalah orang yang disukainya. Sehingga seseorang akan berusaha mencari tahu hal-hal yang mampu menarik perhatian “yang terkasih” dan berupaya menjadikan dirinya memiliki hal-hal tersebut.Dari sifat alamiah yang membedakan antara pria dan wanita, yang mana umumnya pria lebih agresif daripada wanita, maka mencari tahu hal-hal yang menarik perhatian lawan jenis ini merupakan salahsatu “rutinitas” dari kaum Adam tersebut, dibandingkan kaum Hawa yang relatif tidak bergerak.
Salahsatu yang mampu memikat wanita, yaitu dari sisi suara sang pria.Ada penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan itu di jurnal Biology Letters bahwa wanita pada umumnya menganggap suara laki-laki yang lebih maskulin (lebih rendah frekuensinya, bahasa umumnya:”lebih nge-bass”), lebih menarik.
Suara pria lebih rendah daripada suara wanita
Secara umum, dari sisi tinggi rendahnya nada suara , nada suara pria rata-rata setengah lebih rendah daripada nada suara wanita. Hal ini disebabkan oleh massa dan ketegangan pita suara.Pria memiliki pita suara yang lebih panjang dan berat daripada wanita. Pria memiliki frekuensi dasar yang lazim pada 125 Hz, sedangkan wanita memiliki frekuensi dasar satu oktaf (dua kali lipat) lebih tinggi daripada pria yaitu sekitar 250 Hz. Frekuensi terendah yang dapat dicapai oleh seorang penyanyi bas yaitu sekitar 64 Hz, sedangkan frekuensi tertinggi yang dapat dicapai oleh penyanyi soprano, yaitu sekitar 2048 Hz.
Adapun suara manusia sendiri berasal dari pita suara.Pita suara (vocal fold) adalah ‘mesin’ penghasil suara bagi manusia.Untuk menghasilkan suara, pita suara harus bergetar ratusan bahkan ribuan kali per detiknya, tergantung nada atau frekuensi yang kita ucapkan. Pita suara sendiri terletak di perbatasan faring dan trakea.Pita suara merupakan susunan dari tulang rawan, otot, dan membran mukosa yang membentuk semacam lempengan di ujung trakea, berada di sebelah kiri dan kanan dari ujung saluran nafas atau trakea. Membran mukosa ini membungkus otot dan tulang rawan.
Pita suara yang normal dapat bergerak membuka dan menutup, serta bergetar dengan baik. Bila kita dalam keadaan bernafas, pita suara akan membuka / memisah, dan udara yang kita hirup lewat hidung atau mulut akan masuk ke saluran yang ada di bawah pita suara menuju ke paru-paru. Dan bila kita berbicara, maka pita suara akan menutup dan bergetar.
Sedangkan faktor yang menentukan keunikan suara seseorang yaitu terletak pada perbedaan bentuk tenggorokan dan rongga hidung. Setiap individu masing-masing memiliki bentuk kedua organ tersebut yang berbeda sehingga suara yang dihasilkannya pun berbeda. Suara seseorang tidak dapat diubah secara alamiah, hanya dapat diubah secara paksa dengan mengecilkan rongga hidung alias memencet hidung atau adanya gangguan pada sistem pernapasan (hidung, tenggorokan, dkk.)
Penjelasan tersebut sejalan dengan konsep tentang suara yang menyatakan bahwa getaran dari suatu sumber (dalam hal ini pita suara) akan menyebabkan merambatnya gelombang dalam medium udara berupa perubahan tekanan (pressure) secara merapat dan merenggang (longitudinal) yang bentuknya juga khas. Setiap benda (pita suara masing-masing individu) memiliki karakteristik material (struktur atom ataupun morfologi) yang berbeda, sehingga jika sebuah benda digetarkan dapat menyebabkan bunyi yang terdengar akan terasa berbeda pula jika dibandingkan dengan benda yang lainnya.
Manipulasi suara
Berdasarkan paparan tentang suara pria yang umumnya lebih rendah daripada suara wanita dan adanya rasa persaingan bagi para pria agar memiliki suara yang lebih nge-bass agar terkesan lebih maskulin, maka terbetik dua hal yang dapat dijadikan solusi.
Solusi pertama yaitu dengan menggunakan alat pengubah suara.Di pasaran, sebenarnya sudah banyak ditawarkan alat jenis ini, tetapi tidak spesifik untuk membuat suara pria menjadi lebih maskulin.Secara prinsip, alat yang seperti buatan Prof.Agasa dalam komik Detective Conan, merupakan alat yang memanipulasi sinyal untuk mendapatkan karakteristik sinyal yang sesuai dengan si pemilik suara.
Dua faktor yang menentukan karakteristik sinyal suara seseorang, yaitu dari segi frekuensi dasar dan dari segi warna suara (timbre).Syarat umum dari kedua faktor tersebut sehingga dapat dimanipulasi sinyalnya (dengan transformasi Fourier), yaitu adanya keteraturan secara waktu (periodik).Meskipun memiliki syarat yang sama, namun warna suara lebih sulit dilakukan identifikasi karena getaran gelombang suara cukup kompleks, dan biasanya bergetar dalam beberapa frekuensi secara simultan. Inilah sebenarnya yang menyebabkan suara masing-masing benda berbeda dikarenakan “muatan harmonik” warna suaranya berbeda pula.
Kemudian, sinyal yang telah teridentifikasi ini, dimasukkan ke dalam rangkaian filter, dalam kasus membuat suara lebih nge-bass, menggunakan low pass filter, lalu digunakan converter (Analog to Digital Converter) kemudian masuk ke prosesor (pengolah sinyal, komputer dan sejenisnya), kemudian diubah lagi oleh Digital to Analog Converter,selanjutnya dihubungkan ke transdusernya.
Hal lain yang dapat dijadikan solusi, meskipun lebih sulit dilakukan yaitu membuat suasana ruangan menjadi lebih maskulin, dalam arti mengakibatkan suara pria menjadi lebih nge-bass.Secara desain akustik, hal ini dapat dilakukan dengan menempatkan bahan penyerap dan atau kedap suara (tergantung fungsi ruangan), yang mampu untuk menguatkan suara frekuensi rendah dan melewatkan suara frekuensi tinggi.Hanya saja, kendala yang dihadapi yaitu dinding bahan-bahan tersebut dapat menjadi sumber suara baru yang dapat mengakibatkan kebisingan, dan juga suara wanita yang pria tersebut ingin dipikat lebih sulit didengar karena frekuensi tinggi yang malah coba dihilangkan, dan bahkan dapat menjadi aneh terdengarnya.
Cara lain, yaitu menggunakan sistem tata suara (sound system), dalam hal ini dapat digunakan subwoofer. Tetapi, yang menjadi batu sandungan yaitu pria tersebut harus memakai transduser, dalam hal ini mikrofon untuk berbicara dengan wanita impiannya, dan jelas hal tersebut merupakan sesuatu yang janggal. Permasalahan lain dari desain akustik untuk mendapatkan kesan yang lebih maskulin ini, yaitu ruangan tersebut haruslah ruangan privasi karena jika menggunakan pemanfaatan desain akustik tanpa sistem tata suara khusus, maka jika ada pria lain yang secara alamiah memiliki suara lebih nge-bass dari Anda, alih-alih mendapatkan perhatian wanita pujaan, malah wanita pujaan tersebut akan pindah ke lain hati.
Terakhir, jika memang Anda, pria yang memiliki keingintahuan untuk mewujudkan dan menggunakan pelet akustik (alat pengubah suara dan desain akustik agar suara pria menjadi lebih maskulin) ini, maka pastikan dulu bahwa wanita pujaan Anda memang menyukai pria bersuara nge-bass, karena jika tidak maka, runyam.
Pustaka:
http://64.203.71.11/ver1/Iptek/0608/03/181402.htm
http://andrimirzal.googlepages.com/diary-kinikutahu
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/09/070926_men_kids.shtml
http://erabaru.or.id/200904302162/beberapa-jati-diri-tubuh-manusia.html
http://artikel-kesehatan-online.blogspot.com/2009/01/pita-suara-manusia-yang-menakjubkan.html
http://books.google.co.id/books?isbn=9794487759
http://netsains.com